Berita > Baca 2024-04-02 01:26:14

Jejak Kacang Tanah di Nusantara

Kacang tanah memegang peranan penting dalam khazanah kuliner Nusantara. Tak lengkap rasanya menyantap seporsi hidangan berbasis sayur, seperti pecel, gado-gado, hingga karedok, tanpa kehadiran saus kacang. Balutan bumbu kacang juga dijumpai dalam menu olahan daging dan buah-buahan dari banyak daerah. Harus diakui, peran bumbu kacang dalam banyak masakan Indonesia adalah sesuatu yang hakiki. Tentunya telah menjadi sejarah yang panjang. Lalu, seperti apa perjalanan si kacang tanah dari masa lalu hingga kini?
1
2
3
4
5
6
7
8

Dalam KBBI, pengertian kacang tanah adalah kacang yang buahnya tertanam di tanah, bijinya yang lezat dan gurih sebagai bahan minyak goreng, dibuat berbagai makanan, seperti selai, kacang, gula kacang, sambal kacang; kacang cina [Arachis hypogaea]. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut pengertian tersebut, misalnya sebagai bahan baku minyak goreng yang saat ini tidak umum di masyarakat. Atau nama lain kacang tanah yang disebut kacang cina. Tentu, ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan dan pemanfaatan si kacang tanah ini.

Kacang tanah atau Arachis hypogaeae bukanlah tanaman asli Indonesia namun merupakan tanaman asli dari Amerika Selatan. Tanaman ini diyakini tersebar ke seluruh penjuru dunia berkat kegigihan para pelaut-pedagang Portugis, Spanyol dan Tiongkok. Tumbuhnya benih kacang tanah di Nusantara diperkirakan berkat para pedagang Tiongkok yang membawanya lewat Jalur Rempah Nusantara. Interaksi dan hubungan Nusantara dengan Tiongkok terbentuk jauh sebelum dengan bangsa Eropa.

Beberapa jenis kacang tanah atau kacang cina diyakini banyak dibudidayakan oleh orang-orang Tiongkok, saat wilayah Nusantara masih dipimpin oleh banyak kerajaan. Sebuah gambar pada buku Itinerario: Voyage ofte Schipvaert karya Jan Huyghen van Linschoten (1596) yang kaya ilustrasi, peta dan informasi stategis menunjukkan bahwa para pedagang dari Tionghoa telah berkongsi dan berkolaborasi dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Salah satu naskah tertua yang mencatat keberadaan kacang tanah di Nusantara adalah buku Herbarium Amboinense karya Rumphius pada abad ke-17. Dalam sketsa di Herbarium amboinense edisi 1741-1750 yang dibuat oleh Georg Eberhard Rumpf (Rumphius), ahli botani di zaman VOC, menyebutkan bahwa tanaman kacang tanah sudah tumbuh subur di wilayah Maluku, selain itu juga banyak dibudidayakan di Makassar dan Batavia. Rumphius pada abad ke-17 menyebut kacang tanah sebagai Katjang Jappon karena dibawa dari Jepang oleh orang-orang Tiongkok.

Menurut tulisan Jan Hooyman, dalam laporannya yang diterbitkan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada akhir abad ke-18, kacang tanah sudah mulai dibudidayakan di Batavia dan pesisir Jawa pada abad ke-18, terutama oleh orang-orang Cina, sehingga di kalangan masyarakat pribumi menyebut kacang tanah ini sebagai ‘kacang cina’. Hal ini tidak mengherankan karena di masa-masa itu memang diusahakan, dibudidayakan, hingga diperdagangkan oleh orang-orang Tionghoa di pasar-pasar. Hooyman sendiri menyebutnya sebagai katjang tannah, kemungkinan diambil dari Bahasa Melayu. Pada referensi lain, kacang tanah disebut orang Tiongkok di Batavia abad ke-18 sebagai To-thau dalam bahasa Cina, istilah ini mengingatkan kita pada tudu yang secara harfiah berarti “biji tanah”, namun kini menjadi nama salah satu jenis kentang. Dalam catatan kuno Cina abad ke-16 disebut sebagai huā shēng. Kata ini merupakan kependekan dari luòhuāshēng, yang secara harfiah berarti “benih lahir dari bunga yang jatuh ke tanah”.

Dalam berbagai referensi masa kolonial, penamaan kacang tanah dalam bahasa lokal disebut dengan berbagai nama, antara lain: Katjang Jappon (Rumphius), Katjang Tannah (Hooyman), Katjang Tanah, Katjang Tjina, Katjang Pendem, Katjang Goreng, Kacang Soeoek, Katjang Broel, Katjang Waspada dan lain sebagainya.

Pendek kata, Jalur Rempah Nusantara tak hanya berperan memperkenalkan rempah asal Indonesia ke seluruh dunia, tetapi juga membawa komoditas dunia ke Nusantara, salah satunya adalah kacang tanah.

.
Referensi:

Hooyman, Jan., “Verhandeling over de tegenwoordigen staat van den landbouw im de Ommelanden van Batavia”, Verh.Bat.Gen. 1, 1778 diakses pada delpher.nl

Rumphius, G. E., “Herbarium amboinense” edisi 1741-1750 diakses melalui digitalcolectie.universiteitleiden.nl

Lombard, Denys., “Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia 1990”, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

dan lain-lain.